Celana Asing di Jemuran (1)

Ada cawet asing di jemuran. Ibu Kaget melihatnya! bertanyalah ibu padaku. Jelas, aku ga tahu perihal cawet itu. Aku cuma bisa mesem saat ibu menunjukkan cawet merah jambu belubang kecil-kecil, bermotif bunga-bunga.

“Ini cawet siapa ya?” tanya ibu.

“Aku ndak tahu. La milik ibu bukan?” tanyaku balik.

“Ibu ndak punya cawet model begini” jawab ibu

Bapak yang mendengar obrolan kami ikut nimbrung. Ia tersenyum sambil meinmpali, “Mbok wis dibuang wae!”

“Yo jangan, barangkali ada yang numpang njemur” sergah ibu.

Berita penemuan cawet asing di jemuran itu menyebar ke tetangga. Tak satu pun dari mereka yang berani mengklaim bahwa cawet itu milik mereka. Ibu semakin bertekad bulat, ia akan membuang cawet itu segera! Terlalu riskan baginya memakai cawet itu. Ia curiga pada cawet asing yang tak jelas asal usulnyaa. Jangan-jangan cawet itu telah diberi kuman atau bakteri tertentu. Kami sepakat membuang cawet itu, tepatnya menguburnya.

Bapak sudah menyiapkan lubang untuk cawet asing itu. Ibu yang memasukkannya. Aku cuma melihatnya dari jarak 10 meter, di penjuru rumah.

Pagi hari ketika Ibu hendak berangkat kerja, ia kembali dikagetkan dengan cawet. Weladalah! cawet itu sudah ada di jemuran lagi. Cawet yang sama seperti pertama kali ditemukan. Tak ada noda tanah sedikitpun. Kami sekeluarga makin terheran-heran. Siapa gerangan yang usil menaruh cawet di jemuran. Pagi itu juga bapak membongkar lubang di mana cawet itu kemarin sore dikubur. Edan! kuburan itu kosong. Tak ada cawet di sana.

Kami masih meyakini bahwa memang ada orang yang usil menaruh cawet itu. Kali ini kami sepakat membakar cawet itu. Aku sudah menyiapkan minyak tanah, Ibu menyiapkan kayu, dan bull….asap mulai mengepul ketika Bapak memercikkan korek gasnya ke cawet itu. Kami saksikan perlahan-lahan cawet itu habis dimakan api. Masalah selesai!

bersambung…

Add comment 11 Desember 2009

Kita Pernah Salah

“Aku ini bukan lelaki baik-baik. Dulu aku ini penjahat. Aku junkies, aku penjudi, aku pelanggan setia pelacuran, aku ini perampok. Tapi ketahuilah, aku sekarang sudah berhenti semenjak kelahiran anak pertamaku. Dialah kini yang membesarkan harapanku untuk tidak menyerah pada hidup. Memang berat jalan hidup yang kujalani sekarang, lihatlah aku nyaris tak punya apa-apa. Gelang emas yang dulu kupakai, kalung berlian yang pernah melilit leherku semuanya amblas. Tapi aku merasa lebih nyaman dengan hidup seperti ini, meskipun banyak usaha yang kujalani belum juga sukses, bini sering marah-marah, mertua yang terlalu banyak cakap. Tak apalah. Aku pengen shalat,” ceritanya pada Tukiman sore itu.

Mendengar ceritanya, Tukiman diam. Ia sadar lelaki di depannya adalah manusia.

2 comments 2 Desember 2009

“Aku Pulang, Mbok”

Tukiman thenger-thenger, menghitung jumlah duit yang harus dia keluarkan untuk menghadapi Lebaran tahun ini. “Sandal untuk bapak simbok?, belum, angpo buat 12 ponakan? belum, tiket? belum juga megang, sandal buat adik? juga belum terbeli” gumanya sembari mengakuntasikan anggaran tersebut di secarik kertas. Berulangkali dia coba mensiasati, hasilnya tetap sama: kredit jauh lebih besar dibanding debet.

“Wadhuh,” katanya.

Tahun ini, Tukiman tak lagi nyadong sama simbok seperti jaman sekolah dulu. Ia sudah menyandang status sebagai buruh. Ya! Sekarang Tukiman jadi buruh ketik di Jakarta. Sekecil apapun pendapatannya, Tukiman sudah berpenghasilan. Tukiman cuma berpikir dan merasa bahwa sudah sewajarnya memberi uang jajan kepada ponakan, sebagaimana dulu dilakukan kakak-kakak padanya.

Tukiman cuma bisa mesam-mesem membayangkan ponakan-ponakannya di kampung sana. Wajah-wajah mereka yang lucu, tingkah mereka yang pethakilan. Ia bayangkan ia membagi sedikit bebungah kepada ponakan-ponakannya.

Bagi Tukiman, melihat mereka di hari raya Lebaran dengan wajah ceria karena akan dapat angpo jadi satu kebahagiaan sendiri. Ia seperti melihat bayangannya sendiri di kala kecil. Ia ingat dulu Simbok membelikan baju dan celana baru di saat Lebaran yang membuatnya jalannya pe’de’ saat keliling kampung sungkem ke tetangga.

“Bagaimana pun caranya, aku harus pulang,” gumam Tukiman di kamar kosnya yang gerah sembari cari siasat agar APBL (Anggaran Pendapatan Belanja Lebaran)-nya tidak defisit.

Entenono tekaku, Mbok” katanya sebelum ia lipat kertas itu dan beranjak tidur.

4 comments 16 September 2009

Sebatang Rokok untuk Semenit Gempa

Kaki Tukiman ngangkang. Kaki kanan nyekakar di tembok kaki kiri dilempar ke tepi ranjang. Tangan kanan masuk ke celana, tangan kiri sesekali mengusap iler di sudut bibir. Itulah gaya khas Tukiman tatkala sedang tidur. Tanggal berapapun, bulan apapun dia tidur, gaya tidurnya tak pernah berubah. Seperti juga sore itu, 2 September 2009.

“Gempa!” suara ribut dari luar kamar itu membangunkan Tukiman. Tukiman terkejut.  Ia berdiri dan membuka pintu, lari ke halaman.

Di halaman rumahnya orang-orang berkumpul dengan wajah tegang mereka masing-masing. Tukiman melepas nafas panjang, menenangkan diri. Dicubit lengannya sendiri, dipukul mukanya sendiri. “Ternyata aku masih hidup,” katanya.

Segera ia keluarkan rokok dari saku celana dan menyulutnya. Menghempaskan asap, seperti melepas ketegangan yang baru saja terjadi. Orang-orang memperhatikan gerak-gerik Tukiman dengan ekspresi keheranan. Tukiman cuma clingak-clinguk, lalu senyum sendiri.

3 comments 4 September 2009

Timnas cuma Mengalah

Hampir jam 00:00 Tukiman belum juga ngorok. Maklum Den Mas Sugih Crito, temannya, datang jauh-jauh dari kota kembang hanya untuk mengajak begadang. Ngobrol ngalor-ngidul dari persoalan buku, terorisme, hingga mukafir.

Dan sebagaimana begadang di hampir seluruh dunia selalu mendatangkan rasa lapar. Maka warung pecel lele dengan harga yang pas di kantong Tukiman, menjadi pilihan.  Ada TV menyala di warung itu, tanpa ada yang sempat memperhatikannya. Tukiman tergerak mengambil remote, pindah sana-pindah sini chanel TV.

“Lama ga nonton tv” kata Tukiman.
“Oalah kere kok permanen!” sahut Den Mas Sugih Crito

Tukiman cuma mringis, petanda tak bisa balas ejekannya.

Di loud speaker tv itu pembawa berita yang matanya agak ngantuk itu ngomong, “Tim Merah putih naik satu peringkat ke posisi 133 dengan total poin 201.”
timnas-indonesia1
“Lumayan,” komentar Den Mas Sugih Crito.
“Lumayan apa? lihat itu peringkatnya kalah sama Thailand dan Singapura” timpal Tukiman.
“Yah lumayan mengalah sama Singapura, yang negeri cilik, sama Thailand yang baru dilanda konflik negeri itu. Mosok kita harus kemaruk. Sudah negerinya luas, pemain berbakatnya banyak, kaya sumber daya lagi, masih juga kemaruk dalam hal bal-balan. Mbok wis!

Pelan Tukiman menjawab, “as*….”

3 comments 3 September 2009

Nyuci

Tukiman belum sempat nyuci pakaiannya. Pakainnya kini makin apek, ia sendiri hampir muntah menciumnya. Sebenarnya pagi tadi ia ingin nyuci, tapi belum juga ia lakukan. Ia ingin segera nyuci secepat mungkin sebelum senja, sebelum maghrib, sebelum tak punya waktu lagi buat nyuci.

Add comment 2 September 2009

September

September bukan bulan yang ceria bagi Tukiman semasa SMA. 3 kali ia patah hati dengan gadis yang berulangtahun di tanggal 1, 2, dan 3 September. Itu cukup menjadi rambu baginya.

4 comments 1 September 2009

Tatag Budheg cum Pauk!

Tatag, tetangga Tukiman, budheg plus pauk. Ia mengalami kesulitan berbahasa. Tukiman sering kali trenyuh melihatnya. Sebab kadang ia tak bisa berkomunikasi dengan baik dengan Tatag.  Tatag cuma paham beberapa bahasa; peduli, humor, dan empati.

Add comment 31 Agustus 2009

Tetek si Gendis

Gendis. Gadis manis, kembang desa, usia SMA kelas dua. Kemarin pagi, Tukiman melihat si Gendis sedang meneteki anaknya sebelum berangkat sekolah.

Add comment 30 Agustus 2009

Fransisca Murtijah

Tukiman mengenalnya sebagai Fransisca Murtijah. Pekerjaaanya pedagang. Di rumahnya–yang ia bangun sendiri–ada empat nyawa: simbok, kakak, dan dua ponakan, kesemuanya perempuan. Tahun ini, tahun ke empat puluh lima Fransisca Murtijah belum bersuami.

Add comment 29 Agustus 2009

Previous Posts


Categories

Links

Feeds